Penerapan soal dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS) pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun ini meninggalkan keluh kesah para pesertanya.

Sebagian besar siswa mengaku banyak soal yang diujikan saat UNBK tidak pernah dipelajari di kelas sebelumnya. “Di pelajaran matematika ada yang belum dipelajari,” katanya.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, Nizam, dalam “Penilaian untuk Pembelajaran Abad 21” Contoh soal HOTS matematika pada UN tahun 2016 sebagai berikut:

Soal HOTS UN 2015 & 2016

Saat soal tersebut ditunjukkan kepada Fitrah, ia mengaku menemukan soal yang modelnya seperti itu saat ujian, tapi bentuk dan gambarnya berbeda. Namun, ia merasa tidak pernah diajari contoh soal serupa dalam proses belajar-mengajar di kelas. 

Apakah benar negara tak menggariskan soal HOTS dalam kurikulum? Dalam kisi-kisi UN SMA tahun 2017/2018, terdapat penjelasan tentang level kognitif dari lingkup materi yang akan diujikan. Misalnya pada mata pelajaran matematika. Dalam kisi-kisi tersebut, terdapat empat lingkup materi yang menjadi kisi-kisi, yakni aljabar, kalkulus, geometri dan trigonometri, serta statistika. 

Kisi-kisi tersebut juga menjelaskan kemampuan yang harus dimiliki siswa dari berbagai level kognitif. Dalam lingkup materi statistika misalnya, siswa harus dapat memiliki kemampuan memahami konsep dasar pada topik: 
1. Penyajian data dalam bentuk tabel, diagram, dan grafik, 
2. Ukuran pemusatan, letak, dan penyebaran data, 
3. Kaidah pencacahan
4. Peluang suatu kejadian 

Pada level kognitif aplikasi, siswa harus memiliki kemampuan mengaplikasikan konsep statistik dan peluang dalam masalah kontekstual dari keempat topik tersebut. 

Selanjutnya, pada level kognitif penalaran, siswa harus memiliki kemampuan bernalar seperti menganalisis, menyimpulkan, menginterprestasi, memprediksi, dan mensintesis. Pada wilayah inilah soal-soal HOTS ini berada. 

Jadi, sesungguhnya pendidikan di Indonesia sudah membidik tujuan yang menyiratkan kemampuan berpikir level tinggi. Persoalannya, apakah siswa sehari-hari sungguh-sungguh dilatih menuju ke sana dengan latihan soal yang sesuai? 

Simulasi Soal HOTS

Jika memang sekolah tak benar-benar melatih siswa dengan soal-soal HOTS, siswa dan orangtua bisa belajar mandiri dengan bantuan internet. Pada situsweb Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud terdapat layanan simulasi soal kemampuan berpikir orde tinggi atau HOTS. Pada simulasi tersebut tersedia empat unit soal, yakni matematika, membaca, sains, dan finansial.

Pada simulasi soal matematika, misalnya, terdapat tujuh jenis soal. Masing-masing soal tersebut memiliki kesulitan yang berbeda. Dalam soal tentang “Populasi Penduduk Tiongkok”, misalnya, ada soal-soal dengan level kesulitan meningkat. Terdapat empat bagian soal. 

Pada bagian pertama, siswa diperintahkan melihat data populasi penduduk Tiongkok yang sudah disediakan, kemudian memilih pada kelompok umur berapa Tiongkok memiliki jumlah penduduk terbesar di tahun 2010. 

Lalu, pada bagian kedua, siswa diberi perintah: berdasarkan data yang ada, pada kisaran usia berapa saja jumlah penduduk mengalami kenaikan. 

Di bagian ketiga, siswa diminta memberi pendapat terhadap suatu pernyataan. Ada daftar pernyataan yang disajikan, dan siswa harus memilih apakah sebuah pernyataan benar atau salah. Contohnya adalah pernyataan: “Populasi penduduk laki-laki dan perempuan pada tahun 2010-2050 memiliki kecenderungan tetap pada usia kurang dari 25 tahun.” Siswa harus memilih jawaban, apakah pernyataan itu “benar” atau “salah”.

Di bagian terakhir, bagian keempat, soalnya semakin sulit. Perintah dalam bagian terakhir pada soal ini adalah, “Berapakah kisaran persentase penduduk laki-laki Tiongkok yang berusia 50-54 tahun pada tahun 2010 yang bertahan hidup sampai tahun 2050? Tuliskan langkah jawabanmu!”

Infografik Lots Hots

Mengapa HOTS?

Menurut Guru Besar ITB dalam bidang matematika, Iwan Pranoto, soal HOTS harus mengandung analisis, evaluasi, dan mencipta. Tiga hal yang disebut Iwan adalah tiga tahap tertinggi pendidikan dalam taksonomi Bloom. Menurut ahli pendidikan Benjamin Bloom, terdapat beberapa tujuan pendidikan, yakni menghafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, Nizam, juga menjelaskan bahwa HOTS merupakan konsep kecakapan berpikir yang dikembangkan berdasar model taksonomi Bloom. Siswa, katanya, harus punya kemampuan berpikir orde tinggi untuk menyelesaikan masalah yang kompleks, berpikir kritis dan rasional. Mereka juga mesti bisa menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. 

“Anak-anak kita harus didorong dan dikembangkan kemampuan berpikir orde tingginya, tidak sekadar menghafal pelajaran dan pengetahuan, tapi mampu menganalisis, mensintesa, dan mencipta,” ujarnya.

Menurut Nizam, apabila anak-anak dibiasakan dengan soal-soal yang menantang, potensi mereka bisa terpacu untuk berkembang. “Pengenalan HOTS di kelas ibaratnya memberi pupuk agar benih potensi berpikir kritis, kreatif.”

Panduan Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill) ini hasil oleh-oleh rapat sosialisasi di Kemenag tingkat kabupaten. Karena itulah saya juga ingin berbagi file PDF kepada anda semua para guru dan pemangku kepentingan tentang Panduan penyusunan soal hots.

Panduan soal hots ini dilengkapi dengan Perbandingan asesmen tradisional dan asesmen kontekstual Programme for International Student Assessment (PISA), Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS, Pengelompokan level kognitif, Contoh soal HOTS, Kartu soal, Instrumen telaah soal hots, Pedoman Penskoran, dan Instrumen telaah soal hots bentuk tes pilihan ganda/uraian

Permendikbud No. 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah , menyatakan bahwa salah satu dasar penyempurnaan kurikulum adalah adanya tantangan internal dan eksternal. Tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif, budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional.

Soal-soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi,

  • transfer satu konsep ke konsep lainnya,
  • memproses dan menerapkan informasi,
  • mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda,
  • menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan
  • menelaah ide dan informasi secara kritis.

Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall. Mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja. Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.

a. Karakteristik Soal-soal HOTS

1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi
menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. The Australian Council for Educational Research (ACER)
2. Berbasis permasalahan kontekstual
menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply) dan mengintegrasikan (integrate)
3. Menggunakan bentuk soal beragam
Pilihan ganda, Pilihan ganda kompleks (benar/salah, atau ya/tidak), Isian singkat atau melengkapi, Jawaban singkat atau pendek dan Uraian

b. Pilihan ganda kompleks (benar/salah, atau ya/tidak)

Bertujuan untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap suatu masalah secara komprehensif yang terkait antara pernyataan satu dengan yang lainnya.

  • Memuat stimulus yang bersumber pada situasi kontekstual.
  • Peserta didik diberikan beberapa pernyataan yang terkait dengan stilmulus/bacaan,
  • Peserta didik diminta memilih benar/salah atau ya/tidak.
  • Pernyataan-pernyataan yang diberikan tersebut terkait antara satu dengan yang lainnya.
  • Susunan pernyataan benar dan pernyataan salah agar diacak secara random, tidak sistematis mengikuti pola tertentu. Susunan yang terpola sistematis dapat memberi petunjuk kepada jawaban yang benar.

c. Isian singkat atau melengkapi

Soal yang menuntut peserta tes untuk mengisi jawaban singkat dengan cara mengisi kata, frase, angka, atau simbol. Karakteristik soal isian singkat atau melengkapi adalah sebagai berikut.
1) Bagian kalimat yang harus dilengkapi sebaiknya hanya satu bagian dalam ratio butir soal, dan paling banyak dua bagian supaya tidak membingungkan siswa.
2) Jawaban yang dituntut oleh soal harus singkat dan pasti yaitu berupa kata, frase, angka, simbol, tempat, atau waktu.

d. Jawaban singkat atau pendek

Soal yang jawabannya berupa kata, kalimat pendek, atau frase terhadap suatu pertanyaan.
Karakteristik
1) Menggunakan kalimat pertanyaan langsung atau kalimat perintah;
2) Pertanyaan atau perintah harus jelas, agar mendapat jawaban yang singkat;
3) Panjang kata atau kalimat yang harus dijawab oleh siswa pada semua soal diusahakan relatif sama;
4) Hindari penggunaan kata, kalimat, atau frase yang diambil langsung dari buku teks, sebab akan mendorong siswa untuk sekadar mengingat atau menghafal apa yang tertulis dibuku.

LINK DOWNLOAD

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang soal HOTS bisa di unduh disini

Leave A Comment