HOTS merupakan singkatan dari Higher Order Thinking Skills yang artinya kemampuan berpikir tingkat tinggi. Istilah ini pertama kali muncul sebagai salah satu buah pikir seorang psikolog pendidikan Amerika, Benjamin Samuel Bloom. Salah satu kontribusi beliau untuk pendidikan terbit pada tahun 1956 melalui buku Taxonomy of Educational Objectives (Taksonomi Tujuan Pendidikan) yang intinya menjelaskan bahwa tujuan pendidikan memiliki tiga aspek utama, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (emosi dan sikap), serta psikomotorik (aktivitas fisik).

Setiap aspek kemudian memiliki taksonomi atau klasifikasi untuk mencapai tujuan akhir pendidikan, seperti meningkatnya kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotorik peserta didik yang kelak berguna untuk menghadapi persaingan di masa depan. Taksonomi yang dibuat oleh Bloom dari tingkat terendah hingga tertinggi adalah knowledge (pengetahuan), comprehension (pemahaman), application(penerapan), analysis (analisis), synthesis (perpaduan), dan evaluation (penilaian). Klasifikasi tersebut, kemudian direvisi oleh David Reading Krathwohl, seorang psikolog pendidikan dari Amerika, bersama dengan Lorin W. Anderson pada tahun 2000. Urutan taksonomi yang dibuat oleh mereka sebagai bentuk penyempurnaan Taksonomi Bloom adalah sebagai berikut:

a. Tingkat terendah dari Taksonomi Bloom versi revisi adalah remember atau mengingat. Contoh dari soal tipe ini misalnya, “Rubiks Cube merupakan contoh dari bangun ruang berupa ….” Jawabannya adalah kubus. Soal tersebut hanya meminta siswa untuk mengandalkan ingatan.

b. Tingkat berikutnya adalah understand atau memahami. Contoh dari soal tipe ini misalnya, “Jumlah sisi sejajar yang dimiliki kubus adalah ….” Jawabannya, sisi depan kubus sejajar dengan sisi belakang, sisi atas dengan bawah, dan kanan dengan kiri. Berdasarkan ingatan tersebut, siswa dapat memahami bahwa kubus memiliki 3 pasang sisi yang berhadapan.

c. Tingkat selanjutnya dari taksonomi di atas adalah apply atau menerapkan. Contoh dari soal tipe ini misalnya, “Jumlah sisi sejajar yang dimiliki rubiks cube adalah ….” Kita telah mengingat bahwa rubiks cube berbentuk serupa dengan kubus dan kita memahami bahwa setiap kubus memiliki 3 pasang sisi yang berhadapan. Dengan demikian, kita bisa mengaplikasikan bahwa rubiks cube memiliki 3 pasang sisi yang berhadapan.

d. Ketiga klasifikasi sebelumnya dinamakan dengan tipe soal LOTS (Lower Order Thinking Skills) atau kemampuan berpikir tingkat rendah. Sementara itu, tingkat berikutnya merupakan tingkat pertama dari HOTS, yaitu analyze atau menganalisis. Contoh dari soal tipe ini misalnya, “Jika suatu rubiks cubememiliki sisi sebesar 6 cm maka panjang diagonal sisinya adalah ….”

Jawab:

Analisis bahwa setiap sisi dari kubus merupakan persegi dan persegi dapat dilihat sebagai 2 segitiga siku-siku berikut:

Dari hasil analisis di atas, kita memperoleh informasi bahwa panjang diagonal sisi yang ditanyakan pada soal sama dengan nilai sisi miring segitiga siku-siku yang nilainya dapat diperoleh melalui teorema phytagoras sehingga diperoleh nilai 6√2 cm sebagai jawaban.

e. Tingkat HOTS berikutnya adalah evaluate yang berarti mengevaluasi atau menilai. Contoh dari soal tipe ini misalnya, “Jika suatu rubiks cube memiliki sisi sebesar 6 cm maka panjang diagonal ruangnya adalah ….”

Jawab:

Rubiks cube pada soal dimisalkan sebagai kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk 6 cm. Salah satu diagonal ruang kubus tersebut adalah BH. Jika diperhatikan lebih lanjut, BH memiliki hubungan dengan diagonal sisi AH dan rusuk AB, yaitu ketiga sisi membentuk segitiga siku-siku ABH seperti berikut:

Berdasarkan hasil analisis di atas, besarnya diagonal ruang rubiks cube dapat diperoleh dengan mengevaluasi panjang diagonal ruang BH menggunakan teorema phytagoras pada segitiga ABH sehingga diperoleh nilai 6√3 cm sebagai jawaban.

f. Tingkat tertinggi pada Taksonomi Bloom versi revisi adalah create atau menciptakan. Contoh dari soal tipe ini misalnya, “Diketahui suatu kubus ABCD.EFGH memiliki panjang sisi 6 cm. Jika P dan Q masing-masing terletak di tengah sisi AB dan BC maka jarak antara titik H dengan garis PQ adalah ….”

Jawab:

Pada soal, titik P digambarkan sebagai titik tengah dari sisi AB sementara titik Q merupakan titik tengah dari BC. Berdasarkan informasi tersebut kita dapat menciptakan satu garis khayal baru, yaitu OH, yang menjadi perwakilan jarak antara titik H dengan garis PQ seperti gambar berikut:

Berdasarkan gambar di atas beserta teori jarak titik ke garis, dapat disimpulkan bahwa nilai OH dapat diperoleh dari segitiga siku-siku khayal OHQ seperti pada gambar. Dengan demikian, besar OH didapat melalui teorema phytagoras dengan mengombinasikan:

  1. Nilai OQ, merupakan setengah dari nilai PQ yang diperoleh menggunakan teorema phytagoras dari segitiga siku-siku PBQ.
  2. Nilai QH yang sama dengan PH dan diperoleh menggunakan teorema phytagoras dari segitiga siku-siku PAH.
  3. Nilai OH yang diperoleh menggunakan teorema phytagoras bersama nilai OQ dan QH dari segitiga OHQ.

Tentukan setiap nilai yang dibutuhkan:

  1. OQ=12PQ=12PB2+BQ2=1232+32=1218=12×32=322 cm.
  2. QH=PH=AH2+AP2=622+32=72+9=81=9 cm.
  3. OH=QH2–OQ2=92–3222=81-92=1532=317222=3234 cm.

Diperoleh 3/2 √34 cm sebagai jawabannya.

Dasar Suatu Soal Dikatakan Mengandung HOTS

Setelah mengetahui klasifikasi tingkat pembelajaran, lalu bagaimana ya cara kita bisa membedakan apakah suatu soal masuk ke dalam kategori HOTS atau tidak? Nah, berikut klasifikasi penggunaan kata yang dapat dijadikan patokan dalam membuat soal tipe HOTS:

www.teachthought.com

Dari gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa soal tipe HOTS memang lebih mendayagunakan logika dan kemampuan berpikir analitis kita dibandingkan dengan tipe LOTS. Pilihan kata yang digunakan pada tingkat HOTS antara lain, analisis, membandingkan, menyimpulkan, menciptakan, mengombinasikan, dan merencanakan sementara pilihan kata pada tingkat LOTS adalah mengingat, menyusun, menduplikasi, memilih, dan merangkum. Hm, semakin jelas perbedaannya ya, Quipperian!

Akan tetapi, kamu enggak perlu panik, lho. Sesungguhnya, soal tipe HOTS itu tidak selamanya sulit dan tipe soal yang sulit juga belum tentu HOTS karena pada dasarnya, HOTS hanya menitikberatkan pada soal yang mampu merangsang kemampuan analisis dan problem solving, bukan pada tipe soal rumit di luar kapasitas siswa.

Kembali ke soal pada pembahasan poin 1.f. di atas, soal tersebut diambil dari mata uji Matematika IPA SBMPTN 2018. Jadi, sebenarnya beberapa soal SBMPTN memang sudah mengandung tipe HOTS. Yang perlu kamu lakukan adalah tetap tenang dan berlatih sesering mungkin!

Contoh Lain Perbandingan Soal Bukan HOTS dengan Soal HOTS

Jika kamu belum merasa puas dengan perbedaan antara soal tipe HOTS dengan bukan HOTS, berikut Quipper Blog berikan contoh lainnya:

1) Soal Bukan HOTS

Diketahui (an) dan (bn) adalah dua barisan aritmetika dengan selisih masing-masing 3 dan 4. Jika setiap barisan memiliki 100 anggota maka banyaknya anggota kedua barisan yang bernilai sama adalah ….

  1. 21
  2. 22
  3. 23
  4. 24
  5. 25

2) Soal HOTS

Diketahui (an) dan (bn) adalah dua barisan aritmetika dengan a1 = 5, a2 = 8, b1 = 3, dan b2 = 7. Jika A = {a1a2, …, a100} dan B = {b1b2, …, b100} maka banyaknya anggota A∩B adalah ….

  1. 21
  2. 22
  3. 23
  4. 24
  5. 25

Pada dasarnya, kedua contoh soal di atas merupakan soal yang sama dengan pertanyaan yang sama. Akan tetapi, perbedaan kalimat penyampaian pada soal membuat salah satu soal menjadi bentuk HOTS sementara soal lainnya bukanlah tipe HOTS. Perbedaan tersebut beserta tingkatnya dalam Taksonomi Bloom yang sudah direvisi, antara lain:

IndikatorBukan Soal HOTSSoal HOTS
Nilai selisih barisan aritmetikaDinyatakan secara eksplisit, yaitu 3 dan 4 (understand)Dinyatakan secara implisit melalui nilai a1, a2, dan b1, b2 (evaluate)
Banyaknya anggota barisanDinyatakan secara eksplisit, yaitu 100 (understand)Dinyatakan secara implisit melalui banyaknya anggota himpunan A dan B (analyze)
MateriHanya fokus pada barisan aritmetika (remember)Menggabungkan konsep barisan aritmetika dengan himpunan (create)
Bentuk pertanyaanDinyatakan secara eksplisit bahwa yang harus dicari adalah banyaknya anggota yang sama (apply)Dinyatakan secara implisit melalui banyaknya anggota himpunan A∩B (evaluate)

Setelah memahami perbedaan soal tipe HOTS dengan bukan HOTS, tentu saja tidak ada lagi yang perlu ditakutkan, bukan? 

Leave A Comment