Entabang, Palapasang, Entikong, Kalimantan Barat 21 – 28 April 2019

By : Ali Nastain

Prolog

            Ekspedisi Perbatasan Indonesia merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di daerah 3T yang di inisiasi oleh NAYS (National Youth Inspiration), sebuah NGO lokal yang ber fokus memberdayakan daerah tertinggal. Ekspedisi yang di laksanakan di pedalaman Kalimantan Barat tepatnya di daerah Entikong selama seminggu penuh sejak 21 April – 28 April 2019 ini di ikuti oleh 10 volunteer terbaik yang telah di seleksi secara nasional. Alhamdulillah, saya lolos seleksi mewakili kampus UNISKA Kediri setelah bersaing dengan 800 an lebih pendaftar lain dari seluruh Indonesia. Ini merupakan pengalaman perdana saya sebagai seorang volunteer.

Perjalanan ke Entikong

Perjalanan panjang menuju lokasi pengabdian di mulai di hari Sabtu, 20 April 2019 di mana para volunteer mulai meninggalkan daerah masing masing menuju ibukota Jakarta. Esok pagi nya, seluruh volunteer bertemu untuk pertama kali nya di bandara Internasional Soekarno Hatta, meskipun dua bulan sebelumnya kita sudah saling berkomunikasi, tetap saja di pertemuan ini kita masih kaku kaya orang baru kenal. Kemudian kami melanjutkan perjalanan udara menggunakan maskapai Citylink menuju bandara Supadio di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Jam 10.00 WIB pesawat mendarat dengan selamat di Pontianak. Dari bandara kita meenggunakan bus sedang menuju kota Entikong, perjalanan kali ini memakan waktu sekitar 6 jam. Kami tiba di kota Entikong ketika matahari mulai meninggalkan peraduan nya sekitar pukul 4 sore. Namun perjalanan belum berakhir, bahkan ini adalah awal dari perjalanan yang sesungguh nya. Setelah sekitar satu jam duduk menunggu kendaraan, akhirnya datanglah sebuah truk TNI perbatasan, awal nya kami kaget namun setelah di jelaskan oleh panitia bahwa perjalanan ke desa Palapasang tidak bisa menggunakan mobil biasa, saya memahami bahwa kondisi jalan pasti tidak biasa biasa saja. Benar apa yang saya duga, perjalanan ini sungguh mendebarkan karena sepanjang perjalanan banyak sekali tanjakan, turunan ataupun tikungan tajam dengan kondisi jalan yang terjal. Teriakan teriakan kaget dan panik menghiasi kami sepanjang perjalanan itu, untunglah pemandangan di sekitar sangat menakjubkan dengan hamparan perkebunan sawit dan hijaunya pegunungan sehingga lelah kita ter obati. Dan akhirnya setelah berjuang selama 1 jam kami tiba di lokasi pengabdia di malam hari.

Kondisi Dusun Entabang, Kampung Palapasang

Dusun ini terletak di tengah hutan tropis Kalimantan, sehingga masih sangat asri dan segar udaranya. Masyarakat Entabang mayoritas ber agama Kristen, tidak heran karena mereka adalah keturunan suku dayak. Terdapat gereja utama di kampung ini yang terletak di pintu masuk laksana bangunan penyambutan bagi tamu tamu yang datang. Tidak ada sumber air bersih di sini, warga hanya mengandalkan air hujan  yang di tampung untuk keperluan memasak dan minum, sedangkan untuk keperluan MCK warga memanfaatkan sungai Sekayam yang terletak tidak begitu jauh dari pemukiman. Berhubung kami tinggal di situ, maka mau tidak mau kami juga harus melaksanakan MCK di sungai selama satu minggu penuh, sial nya waktu itu air sungai lagi kotor kotor nya sehingga bisa di bayangkan bagaimana efek selanjutnya. Di kampung sini juga belum ada listrik dari PLN, warga masih menggunakan alat sederhana tenaga surya untuk kebutuhan listrik mereka, itupun hanya kuat untuk menyalakan lampu di malam hari. Masalah sinyal jangan di tanya, jangankan sinyal internet sinyal telvon pun bener bener gak ada, warga harus turun ke kota Entiong jika ada kebutuhan yang berkaitan dengan internet dan kami berhasil melewati seminggu tanpa internet di sana.

Fasilitas pendidikan, ekonomi dan kesehatan di Entabang

Fasilitas pendidikan di sini sangat minim, hanya terdapat satu SD yang mana itupun sekedar SD cabang atau SD jarak jauh. Kondisi SD tersebut benar benar memprihatinkan, dimana dinding, lantai dan atap nya sudah tidak pantas lagi untuk di sebut bangunan. SD ini hanya terdapat 3 ruangan kelas yang artinya  satu ruang di pakai 2 kelas, mirisnya lagi  hanya terdapat 3  tenaga pengajar, silahkan bayangkan sendiri bagaimana pembelajaran terjadi di sini. Di  desa  ini belum ada perpustakaan dan daya baca anak anak sangat rendah karena terkendala fasilitas, tapi alhamdulillah kami dapat meninggalkan kenang kenangan berupa taman baca di sana. Untuk fasilitas di bidang kesehatan lebih tragis lagi, puskesmas desa sebagai tempat pemeriksaan masyarakat satu satu nya sudah tidak berfungsi lagi di karenakan tidak tersedia nya tenaga medis yang mau tinggal di kampung Entabang. Warga harus turun melalui jalanan yang ekstrim ketika ingin merujuk ke sebuah puskesmas terdekat di kota Entikong. Untuk bidang ekonomi masih agaka lumayan, karena meskipun tidak ada pasar, beberapa warga ada yang menjual barang barang kebutuhan sehari hari sehingga mereka tidak perlu turun ke Entikong ketika ingin berbelanja.

Jalannya Pengabdian

Di hari kedatangan volunteer, tidak terlalu banyak warga yang menyambut di karenakan hari sudah malam dan minim nya penerangan desa (hanya beberapa rumah yang di terangi lampu). Dengan keadaan yang luar biasa lelah setelah melakukan perjalanan panjang sejak shubuh, kami segera merapikan barang masing masing dan istirahat di rumah pak Kadus, jangan di tanya kapan kami mandi karena sudah di jelaskan di awal bahwa tidak ada air di sini, kalo mau mandi harus ke sungai jadi siapa yang sudi ke sungai malam malam dengan tubuh lelah ?.

Esok hari nya kami menuju ke SD untuk melakukan upacara penyambutan dan pembukaan program. Tidak semua warga bisa hadir karena beberapa dari mereka sudah berangkat ke ladang masing masing. Acara kali ini di hadiri oleh beberapa petinggi desa, mulai dari bapak kades, bapak kadus, bahkan kepala adat suku dayak. Setelah selesai acara, seluruh volunteer berkumpul sesuai dengan bidang pengabdian masing masing (Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Lingkungan) dan berdiskusi dengan pemangku kepentingan setempat. Dari divisi pendidikan sendiri berkordinasi dengan guru guru SD dan membahas tentang penyesuaian program kerja yang telah di rancang oleh volunteer di sesuaikan dengan keadaan di lapangan. Setelah berdiskusi, kami dari divisi pendidikan memutuskan untuk menyelenggarakan beberapa program kerja di antara nya , 1. Game Pancasila, 2. English for fun, 3. Ayo mendongeng, 4. Membatik, 5. Pelatihan buta huruf, 6. Berani bermimpi, 7. Pelatihan tanggap bencana, dan terakhir program pamungkas kami, Taman Baca Entikong.

Hari hari selanjutnya selama seminggu penuh kami lewati dengan menjalankan seluruh program kerja divisi satu persatu, tak lupa kami melakukan evaluasi setiap malam dan pagi. Di hari Sabtu 27 April 2019 seluruh program kerja dari seluruh bidang sudah selesai di kerjakan, sehingga malam nya kami melaksanakan acara perpisahan dan pamitan. Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar dan antusias warga sangat terasa di malam tersebut, hampir seluruh elemen masyarakat datang untuk melepas kepulangan kami di malam tersebut. Cerita pengabdian telah selesai, selanjutnya adalah cerita indah kami tentang jalan jalan ke tugu perbatasan Indonesia dan Malaysia di Enitkong.

Leave A Comment